cafe ilmu

Hidup ibarat mampir ngombe, demikian bapak-bapak Jawa berpetuah. Tidak salah memang, karena memang hidup bukanlah akhir dari perjalanan manusia. ada hidup sebelum kita hidup didunia, dan ada kehidupan setelah hidup didunia. Wahyu agama triumvirat manapun menunjukkan kesepakatan yang sama dalam hal ini. barangkali petuah jawa tersebut mengandung kerumitan, tapi bukan mustahil untuk dielaborasi secara sederhana.

Mampir Ngombe, setidaknya petuah ini merujuk pada satu frase; yakni kefanaan dunia termasuk manusia dengan segala keterbatasannya. Kita telah diberikan kesempatan oleh-Nya hidup didunia dengan beragam corak dan warna yang menghiasinya. ada senang, susah, sedih, gembira, nikmat dan sengsara. namun, tentu tak sekadar itu kita "ada" (being). Tuhan mencipta manusia dan seisi jagad raya dengan tujuan tertentu yang harus kita pahami, dan untuk itulah manusia harus "menjadi" (becoming).

Jika saja kita hidup hanya memperturutkan keinginan-keinginan saja, maka apalah arti kita "ada" , dan proses "menjadi" akan bermakna sempit. manusia sekadar melewati waktu hidup untuk sesuatu yang tidak hidup. begitu saja, ya ! hanya begitu. Maka, mampir ngombe adalah bahasa yang tepat untuk menjelaskan kehidupan. karena setelah ngombe, tidak berarti selesai. ada yang harus dikerjakan setelahnya, sesuatu yang hendak diraih sesudahnya. mampir ngombe adalah istilah yang mengelaborasikan keyakinan akan tujuan hidup. Fokus.

Tidak ada yang salah dengan ngombe, karena itulah menunjukkan ke-manusia-an kita sebagai "makhluk bumi", namun sudah sejatinya kita mereguk banyak ilmu bermanfaat sebagai bekal menjadi "makhluk langit".

mari, sejenak mampir ngombe ...

* Ngombe (jawa) : minum

1 Comment:

  1. deenadvo said...
    "sejatine ora ono opo2 kajobo mung Sing Kondho" ....hiks......jadi inget ma Prof Damarjati...so miss my Jogjahhhh...arrrggggg....
    hiks...pokoknya akhir taun ini aku mau ke jogja ah......

Post a Comment




 

Blog Template by Adam Every. Sponsored by Business Web Hosting Reviews